Kamis, 26 September 2019

Program SDGs dan Implementasinya

       Seperti yang kita ketahui, SDGs merupakan 17 tujuan untuk menciptakan sustainable developments di semua Negara yang meratifikasi hampir seluruh anggota dari PBB. Proyek yang sangat ambisius dari PBB ini merupakan perubahan dari program sebelumnya yaitu program MDGs atau millennium development goals tetapi mengubah tujuan yang ingin dicapai dari 8 menjadi 17 tujuan yang melibatkan banyak aspek termasuk ekonomi, kesehatan hingga industri dan lingkungan. Respon terhadap SDGs pada dasarnya sangat beragam mulai dari negara-negara di dunia yang menganggap bahwa program tersebut merupakan sesuatu yang ground-breaking dan dapat berdampak besar terhadap dunia. Namun, di sisi lain banyak ahli seperti William Easterly yang merupakan ahli dalam development aid berpendapat bahwa SDGs “Play sports! Be in harmony with nature! End all preventable deaths! Only the UN could have come up with a document so useless,” begitulah kata Easterly mengenai SDGs dan bukan hanya Easterly yang memiliki sentiment negatif terhadap SDGs yang dianggap sebagai program utopis PBB.
            Perdebatan yang muncul mengenai SDGs merupakan sesuatu yang sangat wajar karena program yang begitu ambisius seperti SDGs pasti menimbulkan gejolak positif dan juga negatif. Apabila di satu sisi kita melihat SDGs sebagai program ambisius yang memiliki terlalu banyak target dan tujuan, di perspektif lain kita bisa melihat bahwa SDGs merupakan perwujudan model development yang baru dimana tujuannya adalah perkembangan yang berkelanjutan. Model pembangunan baru dari program SDGs ini sudah mencakup berbagai macam aspek pembangunan yang biasanya diabaikan seperti dampak lingkungan dalam jangka panjang serta pentingnya good governance dalam pembangunan berkelanjutan.
           SDGs merupakan sebuah tanda bahwa politik internasional antarnegara bisa menghasilkan sesuatu yang konkrit dan dapat dicapai. Dalam kerangka politik internasional, SDGs merupakan hasil dari kerjasama antarnegara yang sukses dan menghasilkan perjanjian internasional dalam bentuk tujuan dan visi bersama Negara-negara dunia dalam upaya mengarahkan dunia kepada pembangunan yang berkelanjutan dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dunia. Peran Negara dalam implementasi program SDGs tersebut sangat penting karena Negara merupakan aktor sekaligus instrumen impelementasi SDGs ke dalam kerangka politik nasional masing-masing Negara. Implementasi ini begitu penting karena tanpa kerangka nasional, SDGs hanya akan menjadi program utopis yang hanya ada sebagai simbol politik antarnegara yang kosong. Maka dari itu, dibutuhkan proses evaluasi dan pengawasan yang jelas terhadap perkembangan implementasi SDGs karena sifatnya yang tidak mengikat. Pengawasan tersebut dapat dilakukan entah melalui NGO-NGO seperti IIED dan EVALSDGs ataupun melalui Negara yang mengeluarkan laporan tahunan mengenai implementasi SDGs.
            Evaluasi efektif tentang proses implementasi SDGs sangatlah penting melihat tidak semua Negara di dunia memiliki prioritas yang sama seperti yang dicanangkan oleh SDGs dan Negara-negara tersebut akan membutuhkan bantuan dalam praktik imlementasinya. Apabila Negara-negara melakukan implementasi program SDGs dengan baik maka visi 2030 dari SDGs dapat dicapai atau paling tidak beberapa program yang dicanangkan sudah dapat dijalankan setiap Negara.

Referensi
[1] Mitu Sengupta, “The Sustainable Development Goals: An Assessment of Ambition”, E-IR, 19 September 2019, http://www.e-ir.info/2016/01/18/the-sustainable-development-goals-an-assessment-of-ambition/
[2] William Easterly, “The SDGs Should Stand for Senseless, Dreamy, Garbled”, Foreign Policy, 19 September 2019.  http://foreignpolicy.com/2015/09/28/the-sdgs-are-utopian-and-worthless-mdgs-development-rise-of-the-rest/
[3] IIED, “Effective evaluation for the Sustainable Development Goals“, IIED, 19 September 2019 http://www.iied.org/effective-evaluation-for-sustainable-development-goals
[4] IIED, “Effective evaluation for the Sustainable Development Goals“, IIED, 19 September 2019 http://www.iied.org/effective-evaluation-for-sustainable-development-goals

Sabtu, 07 September 2019

Resensi Buku Sedang Tuhan pun Cemburu

        Identitas buku
Judul buku : Sedang Tuhan Pun Cemburu
Nama pengarang : Emha Ainun Nadjib
Nama penerbit : Bentang Pustaka
Kota Penerbit : Yogyakarta
Ketebalan buku : 2015
Tahun terbit : Ketiga
Tebal buku : xii + 444
ISBN : 978 – 602 – 291 – 079 – 4
        Ikhtisar buku
Sinopsis :
salah satu bakat dalam diri manusia memang menjadi binatangmakhluk tingkat ketiga sesudah benda dan tetumbuhan. Binatang plus akal adalah kita. Binatang plus akal plus tataran lain dari spiritualisme adalah kesempurnaan yang seypogiya nya di perjuangkan oleh manusia.
Akan tetapi, binatang tampaknya lebih beruntung dibandingkan manusia. Dunia dan nilai mereka sudah niscaya dari awal sampai akhir. Sedang dunia manusia, suka menjebak diri dengan kebebasan yang dimilikinya atau yang ia peroleh dari Tuhannya. Manusia merasa bebas untuk memilih, termasuk amemilih melebur dengan tatanan masyarakat atau melenyapkan standar – standar nya terhdap nilai kemanusiaan.
Esai esai yang di tulis oleh Emha Ainun Nadjib dalam buku ini,merefleksikan betapa panjang pertanyaannya tas hidup. Emha tak hanya melihat pola interaksi antara manusia dan tuhan yang semakin menabur, tetapi juga semakin tersingkirnya manusia dari strata – strata sosial yang mereka bentuk sendiri.
        Kelebihan Buku :
Dari esai esai yang ada di buku “Sedang Tuhan Pun Cemburu” beliau Emha Ainun Nadjib atau yang lebih kerap disapa Cak Nun itu,menuliskan esai nya sejak tahun 1980 hingga 1994. Buku yang membicarakan tentang polemik pemerintahan yang terjadi kala itu, kehidupan seks bebas yang merajai. Pesan pesan keagamaan tersampaikAn dengan rantaian kata nya yang lebih renyah dan dapat dinikmati de berbagai kalangan. Penulis yang juga seorang budayawan dan seniman itu, benar benar membuat pembacanya takjub karena menjadikan esai yang berbobot namun dengan bahasa yang santai, dan mudah di maknai.
Cak nun, memiliki ke khas an yang mana tentunya dimiliki oleh penulis penuslis ternama lainya. Ciri khas cak nun yang selalu ada ada saja dalam rangkaian kata kata nya. Yang lucu namun tepat dan tersampaikan. Karena bawaanya yang tidak terlalu serius dan membuat otak berpikir keras memkanai esai nya, pembaca selalu mengikuti alur dan proses esai yang di sampaikan.
Buku yang kini telah meroket hingga cetakan yang ke tiga ini juga bukti jelas dari masyarakat bahwa buku tersebut memiliki peminat yang luar biasa antusianya. Karena pada tahun 2015 ini, buku “ Sedang Tuhan Pun Cemburu” sudah di cetak sebanyak tiga kali yakni, cetakan pertamanya pada bulan februari 2015, cetakan keduanya pada bulan april 2015 dan cetakan ketiga nya pada juli 2015.
       Kekurangan buku :
Saat ini buku buku Cak Nun, sudah mulai langka di temukan di toko toko buku yang besar. Kalau pun mau mencarinya, beberapa penjual buku online dan itu pun juga edisi nya bener bener limeted edition.
Buku yang telah di cetak tebal itu, mungkin membuat pembeli awalnya ragu ragu. Karena beberapa penikmat buku akan melihat seberapa tebal buku tersebut, dan biasanya kalau terlalu tebal pembaca akan merasa jengah. Padahal ketika sudah dibaca mungkin akan memberikan dampak yang berbeda.

Referensi:
http://library.uny.ac.id/sirkulasi/index.php?p=show_detail&id=56661&keywords=tuhan+pun+sedang+cemburu