Seperti yang kita ketahui, SDGs merupakan 17 tujuan untuk
menciptakan sustainable developments di semua Negara yang
meratifikasi hampir seluruh anggota dari PBB. Proyek yang sangat ambisius dari
PBB ini merupakan perubahan dari program sebelumnya yaitu program MDGs
atau millennium development goals tetapi mengubah tujuan yang
ingin dicapai dari 8 menjadi 17 tujuan yang melibatkan banyak aspek termasuk ekonomi,
kesehatan hingga industri dan lingkungan. Respon terhadap SDGs pada dasarnya
sangat beragam mulai dari negara-negara di dunia yang menganggap bahwa program
tersebut merupakan sesuatu yang ground-breaking dan dapat
berdampak besar terhadap dunia. Namun, di sisi lain banyak ahli seperti William
Easterly yang merupakan ahli dalam development aid berpendapat
bahwa SDGs “Play sports! Be in harmony with nature! End all preventable deaths!
Only the UN could have come up with a document so useless,” begitulah kata Easterly
mengenai SDGs dan bukan hanya Easterly yang memiliki sentiment negatif terhadap
SDGs yang dianggap sebagai program utopis PBB.
Perdebatan yang muncul mengenai SDGs merupakan sesuatu yang sangat wajar karena
program yang begitu ambisius seperti SDGs pasti menimbulkan gejolak positif dan
juga negatif. Apabila di satu sisi kita melihat SDGs sebagai program ambisius
yang memiliki terlalu banyak target dan tujuan, di perspektif lain kita bisa
melihat bahwa SDGs merupakan perwujudan model development yang baru dimana
tujuannya adalah perkembangan yang berkelanjutan. Model pembangunan baru dari
program SDGs ini sudah mencakup berbagai macam aspek pembangunan yang biasanya
diabaikan seperti dampak lingkungan dalam jangka panjang serta pentingnya good
governance dalam pembangunan berkelanjutan.
SDGs
merupakan sebuah tanda bahwa politik internasional antarnegara bisa
menghasilkan sesuatu yang konkrit dan dapat dicapai. Dalam kerangka politik
internasional, SDGs merupakan hasil dari kerjasama antarnegara yang sukses dan
menghasilkan perjanjian internasional dalam bentuk tujuan dan visi bersama
Negara-negara dunia dalam upaya mengarahkan dunia kepada pembangunan yang
berkelanjutan dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dunia. Peran Negara
dalam implementasi program SDGs tersebut sangat penting karena Negara merupakan
aktor sekaligus instrumen impelementasi SDGs ke dalam kerangka politik nasional
masing-masing Negara. Implementasi ini begitu penting karena tanpa kerangka
nasional, SDGs hanya akan menjadi program utopis yang hanya ada sebagai simbol
politik antarnegara yang kosong. Maka dari itu, dibutuhkan proses evaluasi dan
pengawasan yang jelas terhadap perkembangan implementasi SDGs karena sifatnya
yang tidak mengikat. Pengawasan tersebut dapat dilakukan entah melalui NGO-NGO
seperti IIED dan EVALSDGs ataupun melalui Negara yang mengeluarkan laporan
tahunan mengenai implementasi SDGs.
Evaluasi efektif tentang proses implementasi SDGs sangatlah penting melihat
tidak semua Negara di dunia memiliki prioritas yang sama seperti yang
dicanangkan oleh SDGs dan Negara-negara tersebut akan membutuhkan bantuan dalam
praktik imlementasinya. Apabila Negara-negara melakukan implementasi
program SDGs dengan baik maka visi 2030 dari SDGs dapat dicapai atau paling
tidak beberapa program yang dicanangkan sudah dapat dijalankan setiap Negara.
Referensi
[1] Mitu
Sengupta, “The Sustainable Development Goals: An Assessment of Ambition”, E-IR,
19 September 2019, http://www.e-ir.info/2016/01/18/the-sustainable-development-goals-an-assessment-of-ambition/
[2] William Easterly, “The SDGs Should Stand for
Senseless, Dreamy, Garbled”, Foreign Policy, 19 September 2019.
http://foreignpolicy.com/2015/09/28/the-sdgs-are-utopian-and-worthless-mdgs-development-rise-of-the-rest/
[3] IIED, “Effective evaluation for the Sustainable
Development Goals“, IIED, 19 September 2019 http://www.iied.org/effective-evaluation-for-sustainable-development-goals
[4] IIED, “Effective evaluation for the Sustainable
Development Goals“, IIED, 19 September 2019 http://www.iied.org/effective-evaluation-for-sustainable-development-goals