Sabtu, 21 Mei 2016

Teruntuk Dirimu

     Tak sadar kah kau? Dikala malam-malamku terasa berputar lambat.
Memikirkan akankah kita bisa mengulang kembali dari awal. Merubah ego yang masing-masing kita lahirkan. Kutaruh secercah harapan dalam setiap doa.
       Namun, tidak bagimu. Kau telah menemukan yang baru. Yang jelas-jelas seharusnya kau tahu, dia tak pantas bagimu! Ku sangat mengerti dirimu, kau hanya tertawan oleh parasnya yang rupawan. Tapi, kau tak bisa melihat hatinya seperti apa. Kau terlalu buru-buru! Keadaanlah yang mendesak kau memilihnya, mencoba mencintainya, tanpa memikirkan itu sebelumnya.
       Tak ada yang dapat disalahkan. Memang seperti inilah yang seharusnya terjadi. Agar dari diri kita dapat instropeksi. Dan menjadi lebih tahu diri.
       Dalam setiap malam itu, dalam diam kucoba menepis pikiran tentang dirimu, ucapan manismu, bahkan bayanganmu. Rindu. Sungguh kurindu. Hanya mengumpat tak jelas setiap malam itu kuhabiskan. Kutumpahkan semua kegelisahan. Di atas kebahagiaan yang kau rajut bersamanya kala itu.
       Namun, ku tak menyesal. Mungkin tingkah yang kulakukan--tanpa sepengetahuanmu ini--yang menyadarkan dirimu secara tersirat. Bak signal dalam mode yang bergetar. Justru ku bersyukur, kau lepas darinya.
       Tapi tak bisa kupungkiri pula, nyaliku terlalu ciut untuk mengundangmu kembali. Karena ku sadar, aku hanya seorang wanita.