Senin, 07 April 2014

MISTERI RUANG BK

Author:
-Intan Pratidina Purnamasari
-Faradila Justistia Atmaja
-Lala Febriawati
-Muhti Nur Inayah


           Aku awali pagi ini dengan senyuman. Ditemani ayam 
berkokok serta hangatnya sinar mentari pagi yang kian belum muncul. Ya, hari ini aku berangkat sekolah di pagi buta karena ada pendalaman materi di jam nol. Pagi ini aku disambut oleh angin pagi yang kian menusuk bulu kudukku. Aku menelusuri jalanan yang sepi oleh keramaian menuju sekolah tercinta, SMP N 1 Semarang. Butuh sekitar 20 menit aku menuju sekolahku. Aku menghabiskan waktuku di mobil sambil membaca buku dan mendengarkan lagu di iPod. Memang, aku tidak bisa belajar jika tidak ada lagu. Aneh bukan?

          Rumahku cukup jauh dari sekolah, mungkin jaraknya sekitar 30km. Rumahku berada di kecamatan Banyu Manik sedangkan sekolahku berada di kecamatan Mijen. Ya, memang cukup jauh, tetapi ini tujuanku, tujuan untuk menggapai asa dan harapanku yang Insya Allah akan jadi kenyataan. Alasanku memilih SMP N 1 Semarang sebagai tempat meraih cita-citaku karena aku tau SMP ini selalu menjadi SMP favorit.Memang banyak SMP yang lebih bagus dari sekolahku, tapi aku yakin aku lebih bisa meraih cita-citaku melalui SMP N 1 Semarang!

*****

“Good morning everyone.”kataku seraya memasuki ruang kelasku, ruang IX E. “Untung saja belum telat kalau telat bisa di hukum lagi kayak kemarin.”omongku dalam hati. Tiba-tiba salah satu sahabatku menghampiriku.“Intan, kamu sudah ngerjain PR Matematika belum?”tanya Lala, salah satu sahabatku. “Yang manasih? Yang di buku Mathematis for Junior High School Grade IX yang 1A halaman 222 bukan sih?”balasku sambil mengambil buku matematika dalam tasku. “Iya bener.”jawab Lala singkat. “Oh itu, aku s\udah kok. Memangnya kenapa?”tanyaku sambil duduk ketempat dudukku. “Aku boleh liat gak? Soalnya buku Matematikaku ketinggalan, aku aja ingetnya baru tadi pas sampai depan ruang BK. Cuma soal sama caranya doing kok pliss, aku bingung mau minjem siapa, Tisya sama Ina aja belum berangkat noh.”mohonnya kepadaku. “Hah ruang BK?”kataku dalam hati. Hmmmm, mengapa setiap sahabatku ketinggalan sesuatu pasti mereka mengatakan “…tadi aku ingatnya pas sampai di depan ruang BK.” Aku juga gak mengerti sama hal ini. Tetapi sebelum-sebelumnya aku belum pernah mengalami kejadian seperti yang mereka alami. Aku terus memikirkan tentang ruang BK tersebut. “Heh, Intan! Kok malah ngelamun?”Tanya Lala dilanjutkan dengan memukul bahuku. “Eh eh maaf maaf, ya udah nih liat aja.”jawabku terbata-bata. “Oke makasih cantik!”balas Lala sambil memuji aku. “Yoi.”jawab singkatku. Beberapa menit kemudian Ina dan Tisya berangkat dan disusul oleh guru pengawas masuk yang menandakan Pendalaman Materi akan segera dimulai.

*****


“Kringgggggg.......” bel yang menandakan pelajaran telah usai pun berbunyi. Seperti biasa aku langsung keluar kelas untuk segera pulang. Tiba-tiba 3 sahabatku memberhentikanku. “Intan, STOPPPP!”3 sahabatku itu memberhentikanku, entah mengapa mereka begini padahal tidak seperti biasanya. Ada pr enggak, ada tugas juga enggak.“Ono opo to cah cah?”balasku dengan logat jawa kasar. “Jangan pulang dulu tan, aku penasaran nih sama ruang BK. Tadi Lala cerita kalo buku Matematikanya ketinggalan dan kalo kamu tahu tan aku, Lala, dan Ina tu ngalamin kejadian yang sama! Buku gambarku ketinggalan dan kamu tau sendirikan tadi? Aku disuruh menyapu kelas waktu pelajaran Seni Budaya dan Ina lupa bawa crayon dan yang terjadi ya sama kita berdua dihukum untuk menyapu kelas pada saat pelajaran. Kalau Lala sih enak enggak dihukum, tapi yang sama dari kita bertiga itu, waktu kita ingat ada barang yang lupa kita bawa pas berada di depan ruang BK.”jawab Tisya salah satu sahabatku dengan panjang lebar. “Terus aku kudu piye?”balasku kembali menggunakan bahasa jawa. “Ah elah kamu tu gak peka e tan. Ya jelas kita mau ngajak kamu buat nyari tau misteri apa sih yang ada di ruang BK. Kamu kan déjà vu pastinya kamu bakal tau apa sih yang pernah terjadi dulu di ruang BK tersebut.”jawab Ina panjang lebar. Memang sih aku diberi suatu kelebihan oleh Allah Swt. Yaitu dapat mengetahui asal-usul dari sesuatu yang dianggap misteri bahkan banyak orang sih mengatakan aku “anak déjà vu”. Tetapi aku tidak bisa melihat makhluk gaib dengan sering, mayoritas hanya dapat mengetahui asal-usul suatu misteri, aku juga enggak memakai kelebihan ini dengan sembarangan. Cukup untuk hal yang menurutku positive saja. “Ya udah deh yuk, eh tapikan guru-guru belum pulang? Masak kita nyelonong masuk sih?”tanyaku. “Ya kita tunggu sampai guru-guru pulang saja.”kata Lala meyakinkan.”Okelah!”jawabku sambil memakan gorengan yang sedari tadi berada di tanganku. Tiba –tiba speaker berbunyi “ting tung.. Assalamualaikum wr.wb. Pengumuman ditujukan kepada para bapak/ibu guru SMP N 1 Semarang bahwa saat ini akan ada briefing di ruang kepala sekolah. Jadi, bagi para bapak/ibu yang masih di kantor guru segera untuk menuju ke ruang kepala sekolah. Terima kasih. Wassalamualaikum wr.wb.” Bu Enny guru biologi menyampaikan pengumuman tersebut dengan suara lembutnya. “Nah, untung ada briefing guru ayo kita segera ke ruang BK sebelum para guru selesai briefing.”kata Lala seraya menggandeng ketiga tangan temannya. Lalu kami berempat bersama-sama menuju ruang BK yang penuh misteri dan sampai saat ini belum terkuak.

*****


Sesampai di depan ruang BK.

Tak sengaja aku menatap pohon di depan ruang BK secara terus menerus seperti ada sesuatu hal yang mengganjal. “Ih....serem banget ya pohon itu. Aku jadi pengen pulang. Aku takut teman-teman!”kata Ina sambil menunjukkan wajah pucatnya akibat ketakutan saat menatap pohon tersebut. “Iya ya....serem banget.....”kata Tisya sambil bergandengan dengan Ina. Apalagi saat itu langit mendung, pertanda akan turun hujan. Entah mengapa juga pada saat itu listrik padam dan menambah seramnya suasana. Tiba – tiba saat tepat di bawah pohon Lala tertawa sendiri “Huahahahahaha....!!!” Kemudian Tisya bertanya pada Lala ”La,kamu itu kenapa kok ketawa-ketawa sendiri?” Lala hanya menatap mata Tisya dengan tatapan sadis. ”Lala,kamu itu kenapa???”tanya Tisya kembali. ”Iya La, kamu itu kenapa?” tanyaku. Lala berlari menuju ke arah ruang BK dan menunjukan suatu tempat dan kita pun mengikutinya, setelah kita sampai di tempat yang ditunjukan oleh Lala, Lala seperti bergemetar dan akhirnya pingsan. ”Lala,bangun!!! Bangun La!!”teriakku sambil menggoyang-nggoyang kan tubuh Lala. Selang beberapa menit Lala terbangun dan aku bertanya kepada Lala apa yang terjadi tadi. ”Lala,tadi kamu kenapa?”tanyaku dengan keadaan shock berat. ”A..ak..akuu..uuu...nggak inget apa yang terjadi tadi, tapi yang aku rasakan tubuhku terasa melayang dan panas.”cerita Lala dengan tubuh gemeteran, mungkin efek dari kesurupan tadi. Tempat yang Lala tunjukan itu seperti tangga menuju ke ruang bawah tanah. Aku dan teman-temanku langsung menuju ruang bawah tanah tersebut. Aku melihat sebuah topi kerucut yang sudah usang di sebuah meja dekat dengan suatu almari kuno. Topi tersebut seperti topi yang digunakan untuk ODT (Orientasi Dasar Tonti). Aku langsung memegang topi tersebut dan merasakan sesuatu hal yang aneh. Tubuhku bergetar , jantungku berdebar kencang. Angin semilir menerjang bulu kudukku dan teman – temanku. Aku seketika tidak sadar dan aku melihat suatu kejadian di masa lampau. Aku melihat suatu kejadian yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu dimana aku melihat gadis SMP yang sedang mengikuti latihan ODT. Ia lupa memakai kaus kaki hitam putih yang berukuran 20cm. Lalu, ia dihukum oleh kakak panitia ODT tersebut. Hukumannya ia disuruh lari mengelilingi lapangan sebanyak 50 kali, dan pada saat putaran ke 20 ia kelelahan lalu ia berhenti tepat di bawah pohon depan ruang BK. Teman-temannya telah selesai melaksanakan latihan ODT, tetapi hanya dia yang belum menyelesaikan hukumannya yaitu lari sebanyak 50 kali. Kakak panitianya terus menyuruhnya untuk segera menyelesaikan hukuman tersebut. Dan tanpa disadari ia pingsan tepat di bawah pohon tersebut. Seketika para kakak panitia tersontak, wajahnya tegang, mereka khawatir akan apa yang terjadi pada adek kelasnya akibat hukuman yang mereka berikan. Mereka segera mengecek denyut nadi adek kelasnya tersebut. Dan ternyata, denyut nadi adek kelasnya tersebut telah berhenti. Nafasnya pun akhirnya berhenti. Mereka baru sadar ternyata anak itu mengalami penyakit asma akut, karena sedari tadi mereka melihat gadis itu tersengah-sengah nafasnya namun mereka tak menghiraukannya jua. Mereka kebingungan, mereka tidak ingin masuk kantor polisi, akhirnya tanpa logika mereka memasukan gadis itu ke dalam lemari di ruang bawah tanah, lalu meninggalkannya begitu saja tanpa takut jika ada yang curiga atas beberapa bukti seperti topi dan segala macam yang tergeletak disekitar ruangan tersebut karena mereka tahu bahwa ruangan itu tertutup. Selang beberapa hari gadis itu diberitakan hilang. Tidak ada orang yang mengetahui jika mayat itu di simpan di lemari ruang bawah tanah BK. Kakak panitia ODT pun tidak mau mengakui kesalahannya. Akhirnya mayat itu selalu menghantui kakak-kakak itu dan dengan perlahan kakak-kakak ODT tersebut meninggal dunia. Setelah kejadian itu setiap ada anak yang lupa akan peralatan sekolah akan teringat di depan ruang BK, karena gadis itu tidak menginginkan kejadian yang ia alami terulang kembali.
Setelah itu aku sadar dan menceritakan semua kejadian yang aku lihat tadi ke teman-temanku .

*****


Keesokan harinya kami menceritakan kejadian tersebut kepada Ibu Kepala Sekolah. Awalnya bu kepsek tidak percaya, tapi setelah kita memohon akhirnya Ibu kepsek mau mengecek ruang bawah tanah tersebut bersama pak satpam. Rahasia ini akhirnya terbongkar juga, lalu mayat tersebut telah dimakamkan di tempat yang lebih layak. Sepandai-pandai tupai melompat maka akan jatuh juga. Suatu kebohongan/rahasia yang negatif lama kelamaan pasti akan terbongkar juga. Aku mendapat suatu pelajaran yang berharga atas kejadian ini, aku menjadi lebih teliti dan hati-hati dalam segala hal. Jangan sampai hanya gara-gara kaus kaki dapat memakan nyawa
(?)

*****


Malamnya aku akan segera tidur. Lampu tidurku akan segera aku matikan, tetapi tiba-tiba arwah gadis itu mendatangiku dan berkata “Terima kasih ya telah menolongku. Aku sekarang sudah pergi dengan tenang ke alam sana.” Aku pun tersenyum dan segera mematikan lampu tidurku.

~TAMAT~


Cerita ini hanya karangan fiktif belaka. Maaf apabila ada kesalahan atau kesamaan nama dan tempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar